LOUDNESS, HEAVY METAL HERO FROM THE EAST

4:10:00 PM
Saat itu awal bulan Juli 2011, saya sedang mendampingi bos saya dalam rangka meeting penting di Pontianak. Sebelumnya saya sudah mengetahui jika di akhir minggu di Jakarta ada event Javarockinland. Saya kurang berminat nonton karena headliner utamanya HELLOWEEN, CRANBERRIES, 30 SECOND TO MARS apalagi mengingat jadwal acara bentrok dengan tugas kantor. Tapi saat saya melintasi Jl. Tanjungpura Pontianak dengan mobil tiba-tiba tanpa sengaja melirik baliho besar Javarockinland. Rasa tak percaya sampai saya harus memutar kembali mobil untuk melihat baliho tersebut. Mobil saya hentikan, mata saya terpaku pada salah satu headliner dengan tulisan kecil. Yaa...saya melihat tulisan LOUDNESS!!! waaawww.....bagaimanapun caranya saya harus ke Jakarta. Hari itu juga saya langsung pesan tiket pesawat ke Jakarta. Setengah ragu saya telpon boss saya untuk minta ijin tidak bisa mengkawal beliau presentase. Tanpa diduga boss mengijinkan saya, betapa senang tak terkira hati saya saat itu.....you rock boss. Kebetulan peralatan fotografi selalu saya taruh di jok belakang, maka saya bisa berangkat dengan hati mantap.

                                          Saya bersama MINORU NIIHARA (istimewa)

Akhirnya momen yang saya tunggu tiba, Loudness langsung menghentak dengan hit-hit andalannya termasuk lagu baru "King of Pain" yang menampilkan gempuran dobel bas dari drummer baru MASAYUKI SUZUKI yang bodinya lebih mirip atlet sumo. Yang membuat saya takjub adalah kualitas vokal MINORU NIIHARA yang tidak menunjukkan penurunan, masih seperti yang dulu!! AKIRA TAKASAKI masih lincah memainkan riff-riff klasik serta MASAYOSHI YAMASHITA dengan gayanya yang sedikit kalem tapi betotan bass nya begitu menggelegar mengatur tempo permainan. Saya mengenal Loudness sejak album Thunder In The East dirilis bajakannya sekitar tahun 1985 dan 26 tahun kemudian baru bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri konser mereka.... amazing!!

                                              Loudness live @ JRL Jakarta 2011 (Adi doc)

Berawal dari sebuah band pop rock dari Jepang bernama LAZY, dimana di dalamnya dihuni gitaris AKIRA TAKASAKI, drummer MUNETAKA HIGUCHI dan bassis HIROYUKI TANAKA. Lama kelamaan ketiganya merasa tidak puas dengan jenis musik yang mereka mainkan. Akhirnya mereka cabut dari band untuk mendirikan LOUDNESS di tahun 1981 dengan aliran yang lebih keras. Tapi Tanaka justru memisahkan diri untuk masuk ke band lain. Akira teringat akan teman mainnya sejak kecil dan akhirnya MASAYOSHI YAMASHITA direkrut sebagai bassis. Untuk merekrut vokalis mereka harus mengadakan audisi dan pilihan jatuh ke MINORU NIIHARA (ex Earthshaker). Kala itu mereka sangat menggilai Deep Purple sebagai band idola.

                                               saya bersama Akira Takasaki (istimewa)

Tak lama kemudian Loudness menandatangani kontrak dengan perusahan rekaman Nippon Columbia untuk merilis album perdana "The Birthday Eve" dan tanpa diduga laris manis di Jepang. Tentu saja hal ini merubah Loudness menjadi rock superstar baru di Jepang. Sampai dengan tahun 1984 Loudness rajin merilis album Devil Soldier, The Law of Devil's Land dan Dissilusion dan tentu saja dengan hasil penjualan yang memuaskan. Pola musik ke-empat album awal ini nampak sekali dipengaruhi pola Deep Purple. Riff-riff gitar Akira beraroma Ritchie Blackmore. Sound drum Munetaka mirip banget dengan Neil Part. Saya yakin Deep Purple dan Rush sangat mempengaruhi proses berkarya mereka saat itu.  Kalau mau disimak dengan cermat warna vokalnya Minoru sangat mirip dengan Geddy Lee serta unsur progressive ala Rush kadang terselip di beberapa lagu mereka antara lain Butterfly, Milky Way dll.

                                                            Akira Takasaki (Adi doc)


Sebagai catatan, Loudness merekam album Dissilusion di Eropa sambil mengadakan tour kecil-kecilan di seantero Eropa. Hal ini merupakan pengalaman internasional pertama bagi mereka. Sambutan masyarakat metal Eropa juga sangat membahana. Loudness menjadi idola baru bagi penggemar rock di daratan Eropa yang notabene berasal dari benua Asia tetapi musiknya tidak kalah dengan band-band Eropa saat itu. Sebuah majalah musik terkenal dari Jerman ARDSHOCK bahkan menobatkan Akira Takasaki sebagai gitaris top dunia sejajar dengan Eddie Van Halen!!

                                           saya bersama Masayoshi Yamashita (istimewa)

USA menjadi target utama mereka selanjutnya sehingga album kelima direkam dan dirilis dengan Atco sebagai perusahaan rekaman yang menaunginya. Album fenomenal Thunder In The East dirilis tahun 1985 dengan single Crazy Nights yang mendunia. Sekali lagi kondisi ini makin mengukuhkan Loudness sebagai band rock pertama dari Asia yang go internasional. Trend musik metal saat itu juga mempengaruhi pola musik Loudness. Unsur progressive rock sudah ditinggalkan dan berganti menjadi melodius heavy metal. Riff-riff gitar Akira Takasaki berubah menjadi ala Eddie Van Halen dan dalam setiap konsernya selalu menyertakan sebagian komposisi dari Eruption. Begitu juga dengan gaya bernyanyi Minoru, unsur clean ala Geddy Lee berubah menjadi lebih berdistorsi ala Brian Johnson. Tak ketinggalan sound drum Munetaka menjadi lebih heavy meski masih setia dengan tehnik pedal tunggal baik dalam rekaman maupun konsernya. Dalam catatan saya, hanya ada 3 orang drummer heavy metal di dunia ini yang konsisten memakai tehnik pedal tunggal baik dalam rekaman maupun konser yaitu John Bonham, Nicko Mc Brain serta Munetaka Higuchi.

                                                             Minoru Niihara (Adi doc)

Loudness selanjutnya mencatatkan sejarah sebagai band pertama dari Asia yang bisa konser di Madison Square Garden sebagai band pembuka MOTLEY CRUE. Sukses ekspansi ke Amerika disusul dirilisnya album Lightning Strikes setahun kemudian dan Shadows of War versi Jepang. Single Let It Go menjadi lagu heavy metal yang mendunia. Menyusul tahun 1987 dirilis album Hurrycane Eyes yang juga sukses di pasaran. Seperti kebanyakan band-band lain, kesuksesan kadang justru menimbulkan konflik internal di band dan klimaknya Minoru dipecat setelah dirilisnya single Jealousy tahun 1988.

                                                         Loudness Mark I (istimewa)

Babak baru Loudness dimulai ketika merekrut vokalis MICHAEL VESCERA dari band Obsession. Dengan vokalis orang Amerika mereka berharap akan lebih menuai kesuksesan di dunia. Berturut-turut dirilislah album Soldier Of Fortune (1989) dengan materi baru semua dan On The Prowl (1991) dengan 3 lagu baru dan selebihnya lagu daur ulang. Manusia boleh berencana tapi Tuhan pulalah yang menentukan. Strategi dengan memasang vokalis asli Amerika ternyata justru menjadi bumerang bagi mereka. Saat album Soldier Of Fortune dirilis, musik heavy metal sedang mati suri karena digilas gelombang grunge. Dan seperti nasib semua band-band heavy metal dunia lainnya, Loudness ikut tersungkur dalam jurang. Kesialan lain juga menimpa Loudness dengan adanya penolakan sebagian besar fans di Jepang terhadap vokalis orang bule. Menurut saya dua album era Mike ini ideal banget sebagai album heavy metal. Lengkingan Mike yang begitu berkarakter serta riff-riff heavy metal yang kental pada setiap komposisi lagu. Tapi apa lacur..... grunge kills heavy metal!! Lebih edannya lagi, di tengah-tengah tur keliling Amerika si Mike Vescera cabut begitu saja dari band dan untuk menyelesaikan tur direkrutlah vokalis band EZO si MASAKI YAMADA. Berakhir pulalah petualangan musikal Loudness di Amerika.

                                                               Loudness Mark II (istimewa)

Situasi makin tak menentu hingga bassis Masayoshi Yamashita ikutan cabut dari band dan segera digantikan oleh TAIJI SAWADA (X-Japan). Formasi ini sempat merilis 2 buah album yaitu Loudness dan Once For All. Tak lama kemudian menyusul drummer sekaligus pendiri Loudness si Munetaka Higuchi cabut dan membentuk band SLY bersama Minoru Niihara. Otomatis tinggal Akira Takasaki sebagai satu-satunya member asli Loudness.

                                                        Loudness Mark III (istimewa)

Mungkin saya bisa membayangkan betapa galaunya Akira menghadapi situasi saat itu. Kemudian dia memutuskan untuk mencari ketenangan dengan melakukan traveling ke India sampai akhirnya memeluk agama Budha. Dari situlah berbagai macam inspirasi muncul dan semakin termotivasi untuk mempertahankan dan menghidupkan Loudness kembali. Sepulang dari India, dia mengkontak Masaki Yamada untuk tetap jadi vokalis Loudness sekaligus merekrut drummer EZO si HIROTSUGU HOMMA. Format bertiga ini tahun 1994 merilis album Heavy Metal Hippies. Materi album ini tampak sekali kompromi Akira terhadap trend musik rock saat itu. Di dalamnya terkandung nuansa grunge serta sound gitar yang berubah 180 derajat yang beraroma world music hasil dari petualangannya di India.

                                                           Loudness Mark IV (istimewa)

Selanjutnya Loudness merekrut bassis NAOTO SHIBATA (ex. Anthem) untuk memperkuat Loudness dan berturut-turut antara tahun 1994-1999 merilis album Getto Machine, Engine, Dragon dan Loud 'n Raw. Materi album-album ini lebih berat lagi, campur aduk antara metal groove, metal psychedelic dan banyak unsur etnik tradisional. Meskipun Loudness diperkuat personil-personil yang notabene bukan sembarang musisi masih saja belum bisa mengangkat kembali kharisma seperti tahun 80 an.

                                                         Loudness Mark V (istimewa)

Ketenaran dan kharisma Loudness kembali terangkat justru pada tahun 2001 mengadakan konser reuni dengan menampilkan original line up. Sambutan fans setia di Jepang sungguh luar biasa. Dan formasi ini terus berlanjut dengan menghasilkan beberapa album yang meski tidak bisa mengembalikan ketenaran Loudness seperti di era awal tetapi setidaknya membuktikan bahwa Loudness masih hidup, Berita mengejutkan datang dari manajemen Loudness pada tanggal 30 November 2008 mengumumkan bahwa sang drummer Munetaka Higuchi meninggal akibat kanker liver.

                                           Loudness Mark VI (Courtesy from Google)

Tak mau berduka terlalu lama akhirnya Loudness merekrut drummer baru Masayuki Suzuki dan segera merilis album King Of Pain. Mereka segera melakukan tur dunia dalam rangka promo album termasuk ke Indonesia. Setahun kemudian mereka merilis album 2012 dan tahun 2014 merilis album terakhir The Sun Will Rise Again. Di tahun 2000 an ke atas warna musik Loudness kembali ke heavy metal meskipun tidak se-melodius awal karir mereka. Karakter musik yang lebih low dan berat ditimpali lengkingan Minoru terasa kontras dengan sound gitar Akira yang raw banget.

                                                          Masayuki Suzuki (Adi doc)

Selama karirnya Loudness telah menghasilkan 26 album studio, 5 album live, 5 album kompilasi serta beberapa album single yang diantaranya dijadikan soundtrack film di Jepang. Sungguh suatu pencapaian yang sulit diraih band heavy metal manapun. Sampai sekarang Loudness masih tetap menjadi HEAVY METAL HERO FROM THE EAST.



ROCK AND ROLL CRAZY NIGHTS.....YOU ARE THE HERO TONIGHT........



Previous
Next Post »
0 Komentar