IRON MAIDEN sang legenda yang belum (mau) mati

11:40:00 PM
Waktu SD saya pernah menempelkan stiker kover album Killers di album koleksian perangko saya. Itulah interaksi pertama kali dengan IRON MAIDEN meski saat itu tidak tahu artinya. Baru tahu ternyata itu nama sebuah band rock dari kawan sebangku waktu SMP. Kebetulan dia fans berat Iron Maiden. Saya coba memahami musiknya setelah membeli kaset the best-nya yang rilisan Aquarius. Tak dinyana 34 tahun kemudian, tepatnya 20 Februari 2011 saya bisa menyaksikan dengan badan saya sendiri aksi band legendaris ini.

                                           suasana depan venue di Garuda Wisnu Kencana

Waktu itu sebenarnya saya mau nonton konser yang di Jakarta, tapi berkat bujukan sohib saya sejak SMP akhirnya kami nonton yang di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali. Jakarta terlalu mainstream buat konser internasional...hehe. Dan ternyata saya tidak menyesal memilih Bali. Panggung terasa unik dengan dikelilingi bukit batu. Saat itu terasa bagaikan umroh-nya rakyat metal Indonesia bahkan dunia. Para Troopers (sebutan fans Iron Maiden) dari berbagai negara datang dengan menggunakan atribut masing-masing. Saya sempat say hello dengan Troopers Bangladesh dan Perancis.Tampak juga para pesohor negeri ini baik bintang film maupun musisi. Semuanya berbaur menjadi satu dan hampir semua mengenakan tshirt bergambar Iron Maiden.


Sekitar jam 18.00 gerbang dibuka, maka berduyun-duyun para metalhead memasuki area venue. Hampir saja kamera SLR saya tidak bisa ikut masuk tapi dengan sedikit strategi akhirnya bisa selamat. Sebelumnya tampil band pembuka RISE TO REMAIN yang dikomandoi Austin Dickinson yang tak lain adalah anaknya Bruce Dickinson. Penampilan band beraliran metalcore ini tak mengecewakan dan mereka tampil atraktif. Dalam suatu wawancara Bruce Dickinson ditanya tentang kualitas band anaknya ini dibandingkan dengan band SAMSON-nya Bruce saat muda dulu. Dia menyatakan bahwa band anaknya sekarang lebih hebat dari band-nya dahulu. Yaahh...namanya orang tua pasti bela anaknya.


Tibalah saatnya yang dinantikan, terdengar instrumen Satellite 15 sebagai intro lagu The Final Frontier. Lampu-lampu panggung menyala diikuti kelima personil Iron Maiden tampil di venue tanpa basa-basi. Berikutnya langsung disambung dengan lagu El Dorado dari album anyar mereka. Meskipun kedua lagu tersebut terhitung masih agak asing di telinga fans berat yang hadir saat itu tetapi sambutan tetap liar. Apalagi setelah kemudian disambung dengan lagu-lagu hits klasiknya antara lain 2 Minutes to Midnight, Coming Home dan Dance of Death. Pada lagu The Trooper seperti biasa BRUCE DICKINSON mengenakan seragam tentara kerajaan Inggris sambil mengibarkan bendera Britania Raya. Selanjutnya lagu The Wickerman, Blood Brother, Brave New World sampai yang klasik The Evil That Men Do menghajar mata dan telinga para metalhead yang sedang berpesta. Sambil sesekali memotret momen yang asik saya tetap ikutan head bang dan turut menyanyi lagu-lagu yang saya hafal. Pas saya menengok ke belakang persis di belakang saya ada bintang film Ringgo Agus Rahman sedang menikmati sajian tersebut.



Performa Iron Maiden malam itu menegaskan kembali seperti itulah seharusnya band heavy metal. Mereka tidak hanya menyajikan kesempurnaan skill bermusik yang tanpa cacat, akan tetapi juga suguhan aksi panggung yang memukau mengingat usia mereka termasuk lanjut usia semua. Aksi Bruce Dickinson tidak ada bedanya saat saya menonton video Life After Death 30 tahun yang lalu. Dengan jangkauan vokal yang masih tinggi tanpa fals sedikitpun ditimpali dengan lari sana sini, lompat sana-sini, sungguh membutuhkan stamina yang sangat kuat. Tidak kalah sang pendiri STEVE HARRIS masih tampil dengan gaya khasnya. Menyandang bass Fender andalannya menguasai area panggung dari ujung kanan sampai ke kiri. Sound bass unik dan menurut saya satu-satunya di dunia terasa menggetarkan dada. Bass bagi Steve bukan hanya sebagai pengatur tempo tapi juga bisa sebagai melodi.



DAVE MURRAY yang terkenal paling kalem tapi tetap sesekali tampil beringas dengan sunggingan senyumnya yang khas. Dave memberi nuansa yang khas pada musiknya Iron Maiden. ADRIAN SMITH tampil dengan pesonanya dan selalu memukau lewat sayatan gitarnya. Dari ketiga gitaris menurut saya JANICK GERS lah yang selalu hiperaktif. Tidak cukup berlarian sana-sini tapi sesekali memutar gitar melewati punggungnya. Saking hiperaktifnya dia mengalami suatu insiden yaitu terpeleset di ujung kiri panggung dan jatuh dengan bokong duluan. Saya yakin sehabis manggung pasti sakit luar biasa..hehe. Dari ke-enam personil hanya NICKO MC BRAIN yang tidak bisa saya nikmati permainannya secara langsung. Dia selalu asik tenggelam diantara set drumnya yang unik. Saya hanya bisa mendengarkan kedahsyatan tehnik pukulannya serta dentuman kick drumnya yang kecepatannya setara dengan dobel pedal meskipun dia hanya memakai pedal tunggal. Tapi sungguh beruntung saya bisa bisa memotret Nicko saat melambaikan tangan di balik drumnya dan saya yakin tidak banyak fotografer yang seberuntung saya saat itu.



Saya merinding ketika lagu Fear Of The Dark dikumandangkan, berbeda sekali mendengarkan lewat kaset/CD dibandingkan dengar langsung dari sang empunya. Maskot Eddie The Head berukuran raksasa yang bermutasi menjadi alien muncul saat lagu Iron Maiden. Dengan menyandang gitar putih seolah-olah adu skill dengan Dave Murray, sungguh suatu tontonan yang luar biasa. Tak kalah seru adalah ketika encore menampilkan The Number of The Beast disambung dengan Hallowed By Thy Name plus penutup Running Free. Total 16 lagu dibawakan dengan semburan sound berkekuatan 350.000 watt sungguh merupakan kepuasan yang tak akan terbeli. Jadi ingat kata Huckleberry Finn dalam salah satu adegan filmya yaitu WHO CAN BUY MY WONDERFUL FEELING?


Perjalanan Iron Maiden sebagai legenda heavy metal sangatlah panjang dan berliku. Dimulai pada akhir tahun 1975 Steve Harris yang berasal dari Leyton, London menamai band barunya yaitu Iron Maiden yang terinspirasi dari film The Man In The Iron Mask. Bersama Dave Murray dia mulai merintis band ini dari bawah. Bongkar pasang personil mewarnai perjalanan awal band ini. Tercatat beberapa vokalis yaitu PAUL DAY, DENNIS WILCOCK gitaris yaitu DAVE SULLIVAN, TERRY RANCE, BOB SAWYER, TERRY WAPRAM, DENNIS STRATTON drummer yaitu RON MATTHEWS, BARRY PURKIS, DOUG SAMPSON bahkan pernah diperkuat seorang keyboardis yaitu TONI MOORE.



Tahun 1980 akhirnya Iron Maiden merilis album perdananya self title yang diperkuat oleh Steve Harris, PAUL DI'ANNO pada vokal, Dave Murray dan Dennis Stratton pada gitar serta CLIVE BURR (ex SAMSON) pada drum. Debut album ini berhasil bertengger di no 4 UK Albums Chart yang tentu saja membawa Iron Maiden pada popularitas di negaranya sendiri. Setahun kemudian setelah dirilis album kedua yaitu Killers, Iron Maiden mulai melebarkan sayapnya ke Negeri Paman Sam sebagai bagian tur dunianya. Penampilan awal di publik Amerika saat itu sebagai band pembuka Judas Priest dan saat itulah kedua band ini dikenal sebagai pionir NEW WAVE OF BRITISH HEAVY METAL. Pada album kedua ini posisi Dennis Stratton digantikan oleh teman masa kecil Dave Murray yaitu Adrian Smith.



Akibat ketergantungan pada narkoba yang efeknya merugikan band, akhirnya Paul Di'anno dipecat. Mulailah Iron Maiden mengadakan audisi untuk memilih vokalis baru. Terpilihlah mantan vokalis Samson yaitu Bruce Dickinson sebagai anggota baru. Bruce Dickinson adalah sosok manusia jenius yang sulit dicari tandingannya. Sebelum menekuni karir musiknya, terlebih dahulu dia adalah seorang atlet anggar profesional. Dia juga dikenal sebagai pengarang novel dan saat ini dia juga menekuni profesi lain yaitu sebagai pilot pesawat komersial bahkan dia juga mempunyai perusahaan penerbangan komersial. Pada tahun 2011 dia mendapatkan gelar Doctor (HC) bidang musik dari almamaternya yaitu Queen Mary College.



Bersama Bruce di tahun 1982, Iron Maiden merilis album The Number Of The Beast yang fenomenal tersebut. Album ini berhasil bertengger di no 1 UK Album Chart dan berhasil terjual 14 juta keping di seluruh dunia. Setelah merilis album tersebut justru Clive Burr dipecat dan digantikan Nicko Mc Brain. Tanpa berlama-lama setahun kemudian dirilis album sukses Piece Of Mind. Iron Maiden semakin produktif dengan dirilisnya album Powerslave di tahun 1984 yang dilanjutkan dengan Life After Death yaitu sebuah album live mereka dalam mempromosikan album Powerslave.



Eksplorasi musik Iron Maiden semakin berkembang dengan memasukkan unsur synthesyzer pada album-album berikutnya periode tahun 1986 sampai 1994 yaitu Somewhere In Time, Seventh Son Of Seventh Son, No Prayer For The Dying dan Fear Of The Dark. Di era ini pulalah gelombang perpecahan mulai terjadi. Diawali dengan cabutnya Adrian Smith yang memilih untuk bersolo karir kemudian disusul vokalis ikonik Bruce Dickinson yang justru mendapat bantuan dari Adrian pada sebagian album solo Bruce. Sebelum Bruce keluar di album paling akhir telah direkrut mantan gitaris Ian Gillan Band dan sempat membantu Bruce di album solo pertamanya yaitu Janick Gers untuk memperkuat Iron Maiden.


Saya menilai suatu kesalahan ketika Steve Harris akhirnya merekrut BLAZE BAYLEY (ex Wolfsbane) sebagai vokalis diantara ratusan sampel rekaman suara vokalis-vokalis yang melamar. Ketika saya beli kaset album The X Factor di tahun 1995, saya merasa terkejut dengan karakter vokal si Blaze. Sangat tidak masuk dengan karakter musik Iron Maiden. Disambung dengan perilisan album berikutnya Virtual XI bagi saya justru menurunkan kualitas musikal Iron Maiden. Ternyata apa yang saya rasakan turut pula dirasakan Troopers seluruh dunia, kedua album ini terpuruk dari segi komersial. Sebagian besar fans menolak vokalis baru ini dan menginginkan Bruce untuk memperkuat kembali Iron Maiden. Mungkin karena tahu diri akhirnya Blaze mengundurkan diri dari Iron Maiden pada tahun 1999.


Suatu ketika di tahun 2000 saat saya baca majalah News Music, didalamnya terdapat artikel tentang come back-nya Bruce ke Iron Maiden plus Adrian Smith dan mereka telah merilis album Brave New World dengan formasi tiga gitaris!! Penasaran dengan formasi ini segera saya beli kasetnya dan ternyata memang album ini benar-benar dahsyat. Tak lama kemudian saya nonton penampilan formasi ini di video Rock In Rio....gilaa...benar-benar spektakuler. Formasi ini bukan hanya sekedar reuni dan disusul berturut-turut merilis album Dance Of Death, A Matter Of Life And Death dan The Final Frontier.


Sekitar 6 bulan yang lalu saya baca berita di media sosial bahwa Bruce divonis menderita kanker lidah dan tidak diijinkan melakukan aktivitas menyanyi. Saya pikir inilah akhir dari karir Iron Maiden di dunia musik heavy metal. Tapi beberapa minggu yang lalu ada berita menggembirakan yaitu Bruce telah dinyatakan sembuh dari kanker tersebut dan yang lebih menggembirakan ternyata mereka telah dalam proses pembuatan album baru yaitu Book Of Soul yang rencananya akan dirilis bulan September 2015. Tentu saja Troopers sedunia akan menyambutnya dengan gegap gempita. Iyaaa..... sang legenda ternyata belum (mau) mati......

Semua foto adalah hasil karya Adi Sulistyanto.
Previous
Next Post »

1 comment